Awalnya semua memperhatikanku. Mata mereka hanya tertuju padaku. Hari ini dandananku memang kubuat berbeda, yang biasanya sangat kampungan, hanya dikuncir dan memakai kacamata minus. Kali ini rambutku kubiarkan terurai panjang dan mataku tanpa kacamata.
Brruukk...Tiba-tiba suasana berubah menjadi menjengkelkan. Semua mentertawakanku, aku malu. Sial. Kenapa sih harus terpeleset segala. Aku langsung bangun dan berlari ke kelas. Tas kubanting diatas meja dengan raut wajah asam.
“Reyna, lu kenapa sih ?” Tanya Vaira teman sebangkuku.
“Gue habis kepleset dan semua ngetawain gue, Sial. Taruh mana muka gue.”
“Huahahaha... kok bisa sih? Hahaha.”
“Eh kok lu ikut-ikutan sih, nyebelin banget sih. Entahlah, Sial banget gue.”
“Jangan marah gitu dong nanti cantiknya ilang loh. Kan hari ini lu beda dari kemarin-kemarin.” Ledek Vaira.
“Walau beda tetap aja gue sial.”
“Hari ini kan tanggal 13, 13 itu angka sial Rey, gue juga pernah tuh sial di tanggal ini. Juga, dulu diumur gue yang ke 13, gue sekeluarga kecelakaan lumayan parah.” Terang Vaira
“Haa! Angka sial?” Mulutku menganga lebar.
Bel berbunyi. Semua anak berhamburan masuk kelas. Rupanya mereka masih ingat dengan peristiwa memalukan tadi. Termasuk juga Albi, cowok yang kusuka. Bahkan, tawanya paling keras dari yang lain. Dia sangat kegirangan seperti anak TK yang sedang asyik menonton film kartun. Menyakitkan.
“Kenapa melotot, lu enggak suka gue ketawa?” Bentak Albi.
“Biasa ajalah enggak usah pakai urat.” Nada bicaraku meninggi.
“Pantesan engga ada yang suka ama lu, hahaha... baru dandan sekali aja jatuh. Cewek kayak lu mana bisa diajak jalan.”
“Berisik! Siapa juga yang mau diajak jalan sama lu.”
Guru datang, perdebatan kitapun selesai.
Sepulang sekolah aku teringat dengan kata-kata Vaira. Apa benar 13 angka sial? Setelah ku ingat-ingat lagi... waktu itu bulan Juni tanggal 13, aku jatuh dari motor. 13 Juli ponselku hilang. 13 Agustus kecopetan di pasar. 13 September diputusin pacar. 13 Oktober Albi menjailiku habis-habisan sampai kacamataku pecah. Benar, kesialan-kesialan itu masih tertulis jelas di Diaryku, dan hari ini 13 November aku kepleset didepan semua teman-teman sekolah, memalukan. Kesialan apa lagi yang akan terjadi di tanggal 13 Desember nanti?
Kamis pagi, tanggal 13 Desember
Aku terbayang-bayang terus dengan kesialan-kesialan ditanggal 13 yang selalu menimpaku. Aku yang biasanya naik motor ngebut, tapi pagi ini sangat pelan-pelan, super pelan. Takut nanti bakal jatuh lagi. Jalan menuju kelas pun sangat hati-hati agar tidak kepleset lagi. Parno, itulah yang kurasakan.
Dari pagi hingga bel pulang sekolah keadaan masih lancar. Aneh. Atau jangan-jangan kesialan itu akan terjadi waktu pulang sekolah.
“Kok bengong, lu enggak pulang Rey?” Tegur Vaira membangunkan lamunanku.
“Lu duluan aja Ra, gue entaran aja!”
“Iya udah, gue duluan.”
Vaira pulang, sementara diriku masih duduk terdiam di dalam kelas yang kosong. Setelah menoleh ke kanan, ke belakang dan ke kiri. Ternyata aku tak sendirian. Albi juga belum pulang. Atau jangan-jangan aku bakal sial karena Albi, apa Albi bakal mengerjaiku habis-habisan lagi? Entahlah. Aku pusing.
“Rey kok belum pulang?” Albi menyentuh pundakku.
Aku merasa parno. “Mau ngapain lu, jangan sentuh gue!”
“Eits, galak amat, gue cuma nanya doang. Apa lu enggak bawa motor dan lu enggak ada yang jemput?”
“Gue bawa kok!” Jawabku jutek.
“Terus kenapa lu belum pulang dan muka lu pucat.”
Aku tak membalas pertanyaan Albi. Aku diam seribu kata.
Albipun kembali menegurku. “Kok malah diam sih?”
“Ya gue takut aja, ini tanggal 13 dan di tanggal ini gue selalu sial, mangkanya gue takut pulang sendirian.” Keluhku.
“Hahaha... dasar bodoh masih aja percaya gituan. Kalau lu takut, lu gue anterin pakai motor gue terus motor lu ditaruh disekolah aja. Gimana?”
Gue jadi mikir. Kok Albi tiba-tiba baik ya? Atau jangan-jangan kita nanti bakal kecelakaan lalu Albi yang meninggal. Terus gue yang disalahkan dan seumur hidup gue merasa bersalah. Tidak! Oh tidak bisa.
“Kok malah bengong?” Tegur Albi.
“Enggak Al, gue takut nanti lu jadi korban kesialan gue.”
Albi menatap mataku, tatapanya sungguh aneh. Yang kutahu Albi tidak pernah menatapku seperti ini. Dan kami pun terdiam mematung tanpa ada yang berkata. Suasana menjadi sunyi. Tiba-tiba tangan Albi menggenggam tanganku. “Rey apakah ditanggal 13 ini juga hari sial lagi bagi lu, kalo ada yang ingin bahagiain lu?”
“Maksud lu apa?” Gue langsung mengibaskan tangan dan genggamannya pun terlepas.
“Gue suka sama lu Rey!”
“Sial banget, mana mungkin. Lu itu paling jahat sama gue, paling seneng kalau gue sial.”
Albi bersimpuh dihadapanku. “Justru itu Rey, lu itu unik. Semakin gue ngejailin lu, gue semakin mengagumi lu Rey. Jadi, jadiin tanggal 13 ini hari beruntung buat lu!”
Sontak aku terkejut setengah mati mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya. Semua itu membuat hatiku berdesir. Tanpa berkata apa-apa, aku langsung jatuh dipelukan Albi. Air mataku pun perlahan terjun membasahkan pipi.
Brruukk...Tiba-tiba suasana berubah menjadi menjengkelkan. Semua mentertawakanku, aku malu. Sial. Kenapa sih harus terpeleset segala. Aku langsung bangun dan berlari ke kelas. Tas kubanting diatas meja dengan raut wajah asam.
“Reyna, lu kenapa sih ?” Tanya Vaira teman sebangkuku.
“Gue habis kepleset dan semua ngetawain gue, Sial. Taruh mana muka gue.”
“Huahahaha... kok bisa sih? Hahaha.”
“Eh kok lu ikut-ikutan sih, nyebelin banget sih. Entahlah, Sial banget gue.”
“Jangan marah gitu dong nanti cantiknya ilang loh. Kan hari ini lu beda dari kemarin-kemarin.” Ledek Vaira.
“Walau beda tetap aja gue sial.”
“Hari ini kan tanggal 13, 13 itu angka sial Rey, gue juga pernah tuh sial di tanggal ini. Juga, dulu diumur gue yang ke 13, gue sekeluarga kecelakaan lumayan parah.” Terang Vaira
“Haa! Angka sial?” Mulutku menganga lebar.
Bel berbunyi. Semua anak berhamburan masuk kelas. Rupanya mereka masih ingat dengan peristiwa memalukan tadi. Termasuk juga Albi, cowok yang kusuka. Bahkan, tawanya paling keras dari yang lain. Dia sangat kegirangan seperti anak TK yang sedang asyik menonton film kartun. Menyakitkan.
“Kenapa melotot, lu enggak suka gue ketawa?” Bentak Albi.
“Biasa ajalah enggak usah pakai urat.” Nada bicaraku meninggi.
“Pantesan engga ada yang suka ama lu, hahaha... baru dandan sekali aja jatuh. Cewek kayak lu mana bisa diajak jalan.”
“Berisik! Siapa juga yang mau diajak jalan sama lu.”
Guru datang, perdebatan kitapun selesai.
Sepulang sekolah aku teringat dengan kata-kata Vaira. Apa benar 13 angka sial? Setelah ku ingat-ingat lagi... waktu itu bulan Juni tanggal 13, aku jatuh dari motor. 13 Juli ponselku hilang. 13 Agustus kecopetan di pasar. 13 September diputusin pacar. 13 Oktober Albi menjailiku habis-habisan sampai kacamataku pecah. Benar, kesialan-kesialan itu masih tertulis jelas di Diaryku, dan hari ini 13 November aku kepleset didepan semua teman-teman sekolah, memalukan. Kesialan apa lagi yang akan terjadi di tanggal 13 Desember nanti?
***
Kamis pagi, tanggal 13 Desember
Aku terbayang-bayang terus dengan kesialan-kesialan ditanggal 13 yang selalu menimpaku. Aku yang biasanya naik motor ngebut, tapi pagi ini sangat pelan-pelan, super pelan. Takut nanti bakal jatuh lagi. Jalan menuju kelas pun sangat hati-hati agar tidak kepleset lagi. Parno, itulah yang kurasakan.
Dari pagi hingga bel pulang sekolah keadaan masih lancar. Aneh. Atau jangan-jangan kesialan itu akan terjadi waktu pulang sekolah.
“Kok bengong, lu enggak pulang Rey?” Tegur Vaira membangunkan lamunanku.
“Lu duluan aja Ra, gue entaran aja!”
“Iya udah, gue duluan.”
Vaira pulang, sementara diriku masih duduk terdiam di dalam kelas yang kosong. Setelah menoleh ke kanan, ke belakang dan ke kiri. Ternyata aku tak sendirian. Albi juga belum pulang. Atau jangan-jangan aku bakal sial karena Albi, apa Albi bakal mengerjaiku habis-habisan lagi? Entahlah. Aku pusing.
“Rey kok belum pulang?” Albi menyentuh pundakku.
Aku merasa parno. “Mau ngapain lu, jangan sentuh gue!”
“Eits, galak amat, gue cuma nanya doang. Apa lu enggak bawa motor dan lu enggak ada yang jemput?”
“Gue bawa kok!” Jawabku jutek.
“Terus kenapa lu belum pulang dan muka lu pucat.”
Aku tak membalas pertanyaan Albi. Aku diam seribu kata.
Albipun kembali menegurku. “Kok malah diam sih?”
“Ya gue takut aja, ini tanggal 13 dan di tanggal ini gue selalu sial, mangkanya gue takut pulang sendirian.” Keluhku.
“Hahaha... dasar bodoh masih aja percaya gituan. Kalau lu takut, lu gue anterin pakai motor gue terus motor lu ditaruh disekolah aja. Gimana?”
Gue jadi mikir. Kok Albi tiba-tiba baik ya? Atau jangan-jangan kita nanti bakal kecelakaan lalu Albi yang meninggal. Terus gue yang disalahkan dan seumur hidup gue merasa bersalah. Tidak! Oh tidak bisa.
“Kok malah bengong?” Tegur Albi.
“Enggak Al, gue takut nanti lu jadi korban kesialan gue.”
Albi menatap mataku, tatapanya sungguh aneh. Yang kutahu Albi tidak pernah menatapku seperti ini. Dan kami pun terdiam mematung tanpa ada yang berkata. Suasana menjadi sunyi. Tiba-tiba tangan Albi menggenggam tanganku. “Rey apakah ditanggal 13 ini juga hari sial lagi bagi lu, kalo ada yang ingin bahagiain lu?”
“Maksud lu apa?” Gue langsung mengibaskan tangan dan genggamannya pun terlepas.
“Gue suka sama lu Rey!”
“Sial banget, mana mungkin. Lu itu paling jahat sama gue, paling seneng kalau gue sial.”
Albi bersimpuh dihadapanku. “Justru itu Rey, lu itu unik. Semakin gue ngejailin lu, gue semakin mengagumi lu Rey. Jadi, jadiin tanggal 13 ini hari beruntung buat lu!”
Sontak aku terkejut setengah mati mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya. Semua itu membuat hatiku berdesir. Tanpa berkata apa-apa, aku langsung jatuh dipelukan Albi. Air mataku pun perlahan terjun membasahkan pipi.


0 comments:
Post a Comment